Wajahmu selalu menghantui malam-malam ku. aku ingin kau ada dalam
kesepianku dan keputusasaan ku.. aku akan menantimu hingga kaki-kaki ini
tak lagi mampu berjalan, seandainya cintamu memang untukku aku akan
menjadi putri bidadari terindah dan terbahagia di bumi ku yang indah
ini.
Pagi kembali hadir disini, matahari dan bulan telah berganti tugasnya..
KRING KRING KRING!
suara alarm ini, membangunkan gadis yang sedang terlelap dan bermimpi indah ini dari tidur nya..
“Hooammz” Mata gadis ini terbuka dan mencoba mematikan bunyi alarm itu,
gadis ini bernama Windy, Ia bersekolah di SMP Tunas Bangsa, Dia sudah
kelas sembilan
Windy bergerak dari tepat tidurnya dan menuju ke kamar mandi, setelah
selesai mandi ia lekas memakai baju seragam SMP nya, dan turun ke ruang
makan bersama keluarganya
“morning worlds” Gumam windy setelah menuruni anak tangga
“ma, windy berangkat sekolah dulu iya,” lanjutnya setelah berlari dari ruang makan
“kamu gak makan dulu?”
“ntar aja ma” ucap windy dan berlalu
Seperti biasa windy berangkat bersama Dimas Teman sekelasnya dan juga Orang yang sangat spesial bagi nya,
“Tumben gak telat dim?” Tanya windy saat mereka telah berlalu menaiki motornya dimas.
“ya dong, biasa lah orang kasmaran, gue mau jumpa sama princess gue” Ucap dimas santai
DEG hati windy seakan Terpotong oleh pisau yang sangat tajam, rasanya
begitu sakit.. dengan mata yang berkaca-kaca windy bertanya kepada
dimas.
“Siapa dim?” Pertanyaan basi tapi windy sangat ingin tau jawaban itu
“Sisy temen kita juga, hihi gue sama dia udah jadian” Jawab dimas bahagia
“Loh? mata lo kenapa win? Lo nangis” tanya dimas saat melihat windy dari kaca spion nya
“ohh enggak, itu emm gue kelilipan” Ucap windy terbata-bata dan dia berbohong
Dimas hanya meng’iyakan’ perkataan windy dan terus melaju
Sesampainya di sekolah windy langsung turun dan berlalu begitu saja dari motornya dimas tanpa mengatakan ‘terima kasih’.
“windy kenapa sih? gak ada bilang makasih lagi” Batin dimas
Windy terus berjalan melewati koridor-koridor sekolahnya dan melewati
teman-teman nya yang dia kenal. dan tiba-tiba ada yang memanggil namanya
“Windy..!” Panggil seseorang dan sepertinya itu suara cewek, saat windy menoleh ternyata itu adalah Sisy
“Apa?” sahut windy ketus
“galak banget wak, eh dimas mana?” tanya sisy dan tersenyum
“Emang gue emaknya, ha? lo tanya tuh ama emaknya! bukan gue! sint*ng lo”
Bentak windy tak suka (ya bisa dibilang dia emosi sama tuh cewek)
“lo kenapa sih? gue nanya baik-baik juga. kan biasanya dia bareng lo” ucap sisy heran dengan sikap nya si windy
“Terus? sono lo cari noh di WC umum! kan mirip mukanya sama lo!” Sekali
lagi suara windy meninggi, kini semua mata murid yang berada disana
tertuju pada mereka, dan windy tak menghiraukan itu. windy berlalu ke
kelas setelah melihat sosok dimas yang mulai datang ke arah itu.
“Sisy? kamu gak papa kan?” Tanya dimas khawatir
“eh, gak papa dim. windy kenapa sih dim, dia bentak-bentak aku gak jelas
gitu. kayaknya dia cemburu deh aku jadian sama kamu.” perotes sisy
“ha? ga mungkin kali, dia sahabat gue”
Dikelas windy langsung duduk di bangkunya dan menopang kepalanya
dengan tangan nya. windy menutup matanya, dia Menangis. menangis karrna
dimas yang tak pernah mengetaui tentang hati dan perasaan nya
‘gue sakit dim, lo ga pernah tau hati gue. gue sayang sama lo dari yang
elo tau dan itu lebih dari sekedar persahabatan’ batin windy
Kelas telah ramai dan ribut itu sangat mengganggu windy untuk menangis,
perlahan mata windy melihat sekitar dia mencari sosok yang sangat dia
sayangi itu. di pojok ujung kedua mata windy telah melihat sosok dimas
tapi dimas sedang bersama pacarnya itu. kembali hati kecil windy
menangis, dia sungguh tidak tahan melihat adegan itu.
“dimas, lo gak tau ada hati yang selalu dan terus sayang sama lo, dia
gue dim, dia ada disini. bukan disana” gumam windy di meja nya
Terasa tiada lagi kehidupan untuk ku, saat kau tak berada di dekat
ku. Melainkan bersamanya, hanya sunyi dan sepi yang mengisi hati ku di
keramaian dunia ini. kau hanya ada di angan ku saja.
Aku terlalu lelah mengeja hari-hariku tanpa sandaran cinta dari mu.
hanya sepi yang tersisa, Rasa ini tak akan mau pergi. meskipun ku tau
kau telah bersamanya.
Keesokan harinya windy duduk sendiri di kantin sekolah, yah dia tak
mau lagi berhubungan dengan dimas, walaupun hatinya sangat menginginkan
dimas
“hei, melamun aja lo?” ucap seorang dari belakang windy, tak lain dan tak bukan adalah dimas.
“apa sih? pergi. gue suntuk liat muka lo!” Jawab windy acuh
“Gue salah apa sih win? ya kalo gue ada salah maapin dong, gue gak bisa
terus-terusan lo diemin kayak gini!” cerocos dimas di hapadan windy
“win win, lo tau ga. semalem gue ngedate ama sisy. beh gue bahagia win” lanjut dimas
Butiran air mata telah berlinang deras di mata windy. dia menangis lagi dan lagi
“Longlast ya,” ucap windy masih di iringi dengan tangisan
“lo nangis?”
“engga kok, gue haru aja”
“oh makasihh ya” ucap dimas sembari memeluk erat windy
“udah, gue mau balik”
Aku telah terbiasa menangis karenamu, tapi tetap saja aku tak pernah
lelah untuk mencintai dirimu. rasa yang kupendam ini akan kubawa sampai
aku berada di alam kubur nanti, sampai aku tak berada di atas bumi ini,
sampai aku tak bisa melihatmu, dan sapai aku tak bisa melihat matahari.
8 Tahun Kemudian
Windy telah menjadi penulis terkenal di Indonesia..
Ting Tong’
Suara bel dari kediaman windy berbunyi, windy berjalan ke arah pintu,
dia membuka pintu itu dan ternyata itu Dimas. windy masih menyimpan rasa
itu sampai saat ini.
“gue mau tunangan sama sisy, dateng ya. makasih ya atas semua perhatian
lo ke gue.” ucap dimas sembari memberikan kertas biru itu dan berlalu..
Hati windy seakan terasa MATI..
To : Dimas
Maaf banget ya di, aku gak bisa dateng. aku niat mau ke New York tinggal
disana so jauh dari indonesia dan jauh dari kamu. aku gak sanggup lagi
natap mata kamu, dari dulu aku sayang banget sama kamu. tapi kamu gak
tau itu! sakit banget jadi aku dim. jadi aku kalah
Aku kalah.. bahkan jauh sebelum aku angkat senjata, kamu ada di hidupku
tapi bukan untuk ku miliki, mungkin memang begini lah takdir rasa ku,
cintaku padamu tak akan melambung ke langit ke tujuh.. aku hanya akan
membiarkan buih-buih kesedihan ku menyeru bersama ombak-ombak laut itu..
~ Windy
- The End -
Cerpen Karangan: Tiffany Wagner Panjaitan
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment